Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 April 2012

Sangkan Paraning Dumadi


Mayoritas masyarakat Jawa sebagai pelaku spiritual kejawen memahami dengan baik makna sangkan paraning dumadi. Pemahaman filosofi ini dalam rangka pengenalan jati diri, termasuk pemahaman dasar dan hukumnya wajib. 
  • Sangkan diartikan berasal darimana, 
  • Paraning diartikan hendak kemana dan 
  • Dumadi   diartikan sebagai terjadinya. 
Secara umum sangkan paraning dumadi dimaknai sebagai asal muasal perjalanan ruh. darimana ruh berasal, kemana arahnya, dan akhir tujuannya.  

Filosofi Masyarakat.
Secara filosofis pemahaman diatas kini sudah berkembang dan terlihat semakin beragam. Aliran kebatinan/kepercayaan yang khususnya berbasis di Jawa, memiliki pengertian dan pemahaman yang berbeda antara aliran yang satu dengan aliran yang lain dalam memaknai arti sangkan paraning dumadi.

Nuansanya kini, ada kecenderungan memahami filosofi sangkan paraning dumadi pada ranah rohani "ansich". Pemahaman yang sejatinya belum komplit. Akibat adanya perbedaan pemahaman tersebut, filosofi sangkan paraning dumadi menjadi eksklusif. Menjadi berada di awang-awang, tidak menyentuh akar kehidupan manusia lebih mendalam. Menurut saya, perbedaan ini akibat adanya kesenjangan pemahaman dasar. 

Sebaiknya memang segera merumuskan untuk menuntaskan perbedaan pemahaman ini agar lebih mendasar lagi. jika tidak, sampai kapanpun nantinya kita tidak akan pernah tahu (apalagi memahami) korelasi filosofi sangkan paraning dumadi dengan realita kehidupan manusia. 

Jumat, 02 Desember 2011

Hatiku dicuci Malaikat

(gambar dari google images)
Ketika saya memutuskan untuk tinggal di Pondok Langit menjalani laku tirakat Islam Jawa Kasunyatane Urip selama sebulan penuh (full time), saya mengalami beberapa kejadian yang menurut saya luar biasa spektakuler. Ada dua kejadian diantaranya yang akan saya ceritakan kepada anda sebagai referensi, bahan renungan ataupun buat menina bobokkan anak sufi. Yang pasti dan saya tahu, Allah Maha Adil.

Kejadian yang mengejutkan.
Ceritanya begini:  Kamis akhir Juli 2006
Sehabis buka puasa kami mempunyai kebiasaan "mengendapkan rasa", mengolah rasa hasil puasa pada hari itu. 
Kami berdua duduk di tempat biasanya,  di teras belakang pondok ngobrol ngalor ngidul sambil sharing ttg ada suara yang bisa kami tangkap berasal dari dalam hati, rupa-rupanya kami mengalami hal yang sama.  Ini bukan suara hati semacam curhat tapi waktu itu kami dapet tugas dengerin suara hati yang mengagungkan asma Allah.

Jadi suara inilah yang disebut dengan kata hati, dan  ternyata hati itu benar-benar bisa bertasbih "subhanallah", Maha Suci Allah. 

Waktu itu memang hanya kami berdua yang tinggal di pondok.  
Sebenarnya ada beberapa orang lagi temen pegawai kantor TV yang dateng ke pondoknya hanya waktu malam saja, waktu siangnya mereka masuk kerja. 
Malam itu kita berkumpul sampai sekitar 8 orang. 
Jadi agak ramean gitu.

Pembimbing laku belum ada. Kami masih cerita ngalor ngidul tentang "hati" yang bertasbih itu gimana sih... dan diselingi pembicaraan ringan lainnya.

Kamis, 03 November 2011

Hakikat Wiridan

Dalam pengertian yang luas, wirid merupakan sarana mendekatkan diri kepada Allah swt; merupakan suatu rangkaian kegiatan per’ibadat’an yang bertujuan agar senantiasa selalu mengingat Allah swt, baik secara lahiriah maupun batiniah (di dalam hati), terang-terangan/terucap atau diam-diam/siri.

Pada hakikatnya Allah swt memberikan karunia Nya hanya kepada orang-orang yang  mendekatkan diri kepadaNya. Karunia Allah swt bisa berupa petunjuk yang dihadirkan di kejadian dalam kehidupan; terkadang hadir dalam mimpi kita; adakalanya ketika sedang wiridan datanglah cahaya putih yang terang; kadang juga berupa rasa kesenangan yang seketika datang pada saat beribadah.

Sebenarnya, apabila anda melakukan wiridan itu bisa dengan se-ikhlas mungkin tanpa dihitung, tanpa dibatasi oleh aktivitas, ruang dan waktu... petunjuk-petunjuk dari Allah swt tersebut langsung bisa anda dapatkan pada saat itu juga.

Dalam konteks mendekatkan diri kepada NYA agar selalu mengingat asma Allah dalam tiap hembusan nafas, berlaku kaidah: 
Dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja, wiridan tetep harus dilakukan.  
Artinya, untuk mencapai level itu anda harus istiqomah, harus konsisten.


Senin, 27 Juni 2011

Bertemu Sang Pembimbing

Cerita Perjalanan Ketiga.
Seri ketiga dari cerita perjalanan kali ini adalah sebuah kisah pertemuan dengan sang pembimbing pada awal Juli 2006. Dalam pertemuan kali ini saya ditemani seorang teman dari kota kecamatan Pare Kediri, dan berbincang bertiga dari pagi hari hingga tengah hari.

Dari segi usia, waktu itu saya baru menginjak 45 tahun sedangkan beliau belumlah genap 40 tahun, walaupun kami  tidak saling mengenal sebelumnya, akan tetapi perbincangan kami tidak canggung, seolah kami sudah pernah bertemu. Dialog kami berkisar di kisi-kisi makna kehidupan yang diridhoi Allah swt dan terus berlangsung term demi term; berbagai perihal yang belum bisa saya pahami dan ketahui tentang kuasa ilahi, beliau mampu memberikan pemahaman yang pas, sesuai dengan kaidah kehidupan yang saya yakini. Sepertinya beliau bisa melihat isi hati saya, mengetahui apa yang saya pikirkan dan apa yang saya rasakan.

Pada perbincangan di pagi itu, saya menemukan hal baru, pemahaman tentang  bagaimana hidup yang senantiasa selalu mendapat ridho Allah swt ; bagaimana cara mendapatkannya ; dan apa yang harus dilakukan agar Allah swt selalu ridho memberi bimbingan dan tuntunan kepada umat NYA.




Rabu, 11 Mei 2011

Pasrah Diri

Seri Cerita Perjalanan 2.

Pada cerita perjalanan seri kedua ini, saya masih ingin bercerita tentang kota Yogyakarta pada medio Juni 2006, paska diguncang gempa pada akhir bulan lalu. Kali ini, saya bertemu dengan rombongan Kerohanian Sapta Dharma Bekasi yang dipimpin oleh Mas Haryono di Kantor Pusat KSD Yogyakarta. Kedatangannya kali ini dalam rangka misi kemanusiaan, yakni melihat ke lokasi rumah para warga KSD yang menjadi korban gempa bumi di daerah Bantul, Kulon Progo dan Sleman. Serta menyampaikan titipan santunan berupa bantuan biaya hidup dan biaya perbaikan rumah .

Sebagai relawan kemanusiaan, saya bisa belajar dan melihat dari para korban, walaupun masih trauma, umumnya warga yang dikunjungi menyambut hangat kedatangan rombongan kami. Warga KSD di Bantul ini sungguh tabah. Seolah tidak menghiraukan derita yang dialaminya, warga disana menjamu kami dengan makan bersama-sama, nasi tumpeng urap-urap, tahu, tempe, seadanya tapi nikmat.

Sungguh kesan yang mendalam dan lagi-lagi muncul pertanyaan dalam hati tentang hikmah kejadian disini: “Yogyakarta, kenapa gempa bumi mengguncang wilayahmu. Adakah makna yang tersirat dari peristiwa ini?”


Selasa, 10 Mei 2011

Awal Melangkah

Cerita ini terjadi pada periode akhir bulan Mei 2006 sampai bulan Juli 2006 hingga bertemu dengan seseorang yang memberi “pencerahan” . Kemudian melakukan tirakat, mengikuti apa yang disyaratkan Sang Pembimbing dengan pasrah diri kepada NYA, yakin dan ikhlas dalam menjalaninya sebagai langkah penebusan kesalahan yang telah dilakukan.
Agar bisa memahami jalan ceritanya dengan jelas, maka dibuatlah berseri serta penyampaian materi yang mewakili kejadian pada saat itu.
Semoga bermanfaat.


Seri Cerita Perjalanan 1.
Siapapun anda, suatu ketika pasti mengalami titik balik, titik dimana seseorang mengalami perubahan pola hidup dari kehidupannya yang lampau. Perubahannya sangat mendasar, sehingga sangat sulit untuk dianalisis dengan nalar. Sungguhpun demikian, kita harus menghormati pilihan seseorang untuk menjalani kehidupan yang lebih baik di mata Tuhan.


Masih jelas tergambar dalam ingatan saya, bulan Mei minggu terakhir 2006, ketika saya berkesempatan mengunjungi Sleman Yogyakarta mengikuti ritus kegiatan Kerohanian Sapta Darma (KSD, salah satu aliran kepercayaan di Indonesia, berkantor pusat di Yogyakarta), mulai hari rabu, 24 Mei s/d hari jumat, 26 Mei 2006. Saya datang bersama rekan-rekan senior dari KSD Bekasi yang datang bersama rombongan kecil, 6 orang. Acara selesai Jumat sore, rombongan KSD Bekasi langsung check out ke Jakarta, sedangkan saya masih enggan balik ke jawa timur, karena harus memenuhi janji tidur dirumah kakak.

Sabtu, 27 Mei 2006 jam 06:00 wib, saya masih terlelap diatas kasur ketika badan terguncang dan terbangun mendengar suara angin bergemuruh, lampu gantung bergoyang kencang, dinding rumah bergoyang kekiri-kekanan, terdengar suara barang pecah, guci, kaca, gelas; Sungguh suasana gegap-gempita memecahkan kesunyian pagi. Orang-orang berhamburan keluar rumah sambil berteriak “gempa..gempa.. gempa..”. Ada yang lari pontang-panting dalam kepanikan sambil mendekap si balita erat-erat. Juga terdengar takbir, Allahu akbar.. Allahu akbar... Allahu akbar !!!

Seperempat jam paska gempa, saya memandangi rumah-rumah disekitar yang rata-rata gentingya berjatuhan, saya duduk di teras yang masih utuh karena beratap beton, diam dalam keheningan, merenungkan gempa yang tiba-tiba datang... hati ini trenyuh, hati ini tergetar melihat kenyataan banyak orang yang ketakutan setengah mati seakan hidupnya tinggal sejengkal lagi. Betapa sedihnya jika merasakan bahwa mereka serasa begitu jauh dengan Yang Maha Kuasa. Seolah hidup ini hidup sendiri tidak ada kehadiran Yang Maha Kuasa, sebagai yang mengatur hidup. Beberapa saat kemudian saya sadari betapa rapuhnya jiwa seorang anak manusia ketika keimanan yang tidak utuh dihadapkan pada sang maut. Subhanallah.

Sebenarnya saya orangnya sangat logik, sesuai dengan basic keilmuan saya teknik sipil, jadi wajar kalau saya menyukai sesuatu yang pasti-pasti. So, saya juga bukan type orang yang biasa menghayalkan sesuatu yang tidak riil. Kebiasaan orang teknik sipil adalah membayangkan bentuk fisik bangunan yang sedang dilaksanakan atau yang sedang dalam proses perencanaan.
Akan tetapi saat melihat langsung kejadian diatas, rasa hatipun bisa menerawang jauh, mencoba mengurai makna hakikinya dan berusaha meyakini bahwa peristiwa ini bukanlah sebuah peristiwa yang kebetulan terjadi. Allah swt pasti punya rencana tertentu agar saya melihat langsung untuk memahami “sesuatu” dari kejadian di pagi hari tadi.

Pada saat itu, saya baru mampu meyakini bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Semua telah diatur oleh-NYA, semua mahluk hidup yang terdapat di alam semesta hakikatnya adalah dikehendaki dan diperjalankan  oleh-NYA.

Tetep sehat, tetap semangat dan selalu taat.
Terima kasih.


Minggu, 19 Desember 2010

Satu tahun Wafatnya Gus Dur


Sabtu 18 Desember 2010, ba'dal subuh, matahari sudah terbit. Pagi ini terasa agak lain.
Di beranda masjid mbah Hasyim (KH Hasyim Asyari - Pondok Pesantren Tebuireng) terlihat suasana yang agak berbeda dari biasanya. Selepas subuhan, para santri yang biasanya langsung bubar atau kembali melanjutkan tidurnya masih terlihat bergerombol di beranda masjid yang baero (luas). Rupa-rupanya di beranda ini, mereka mempersiapkan acara khataman Qur'an , sebagai pucuking laku  dalam rangka memperingati 1 tahun wafatnya Gus Dur.


Ada beberapa agenda yang akan dilaksanakan, antara lain, acara yang akan diselenggarakan setelah dhuhur, yaitu parade barongsay dari Jombang ke Tebuireng, acara ini merupakan sumbangan dari warga Konghucu/Tionghoa, sebagai wujud terima kasih warga Konghucu/Tionghoa kepada Gus Dur. Sebetulnya hal seperti ini tidak lumrah dilakukan di pesantren, tetapi karena alasannya sda, akhirnya Gus Sholah mengijinkan. Sedangkan untuk acara puncak, akan diselenggarakan ba'da Isya'


Matahari sudah empat lima penggalah tingginya, suasana semakin ramai oleh kedatangan masyarakat yang ndlidir hambanyu mili, mereka yang datang tidak hanya dari berbagai kota di Jatim tapi juga dari berbagai kota di tanah air.

Memang harus kita akui, semenjak Gus Dur wafat dan dimakamkan di Tebuireng, seolah Pesantren Tebuireng tidak pernah sepi kedatangan pengunjung ataupun peziarah.
Pada awalnya dulu, penduduk dibuat repot juga oleh banyaknya pendatang yang membuka dagangannya di jalan kampung sekitar pondok pesantren, menutupi muka rumah penduduk setempat ; jalanan gang menjadi macet ; apalagi sanitasi, sangat tidak memadai ; sedangkan sampah berserakan dimana-mana. Tapi syukurlah cepat ditangani oleh para ketua RT setempat dengan cukup baik.

Dan subhanallah, di kwartal pertama tahun 2011, sekitar bulan Maret, akan dimulai pembangunan kompleks makam dan nantinya menjadi salah satu tempat tujuan wisata religi yang ada di tanah air, dan tentu saja, ehm.. ehm.. Pesantren Tebuireng kian bersinar dan akan dikunjungi lebih banyak lagi wisatawan.

Matahari telah bersembunyi dibalik bumi, ketika adzan Isya' berkumandang, para santri berbaur dengan para pendatang, bersama-sama melakukan sholat jama'ah Isya' didalam masjid. Di waktu yang bersamaan, Jalanan sekitar kompleks makam lengang, bau harum bunga mawar, melati, sedap malam, srigading, gardena dari tumpukan bunga diatas gundukan tanah pusara Gus Dur menyeruak masuk kedalam hidung yang untungnya, agak tersumbat. Dan disaat semua hening, sangat terasa nuansa nya begitu sunyi dan sakral.

Acara dimulai tepat 19:30, dimulai dengan tahlilan dilanjutkan dengan yasinan terus doa dari kyai sepuh dan setelah itu pidato sambutan dari shohibul bait, Gus Sholah, keluarga almarhum yang diwakili putri kedua, Yenny Wahid ; kemudian kesan dan pesan dari teman, murid, ketua MK, Mahfud MD ; Anggota DPR-RI dari PPP, Lukman Hakim Saifuddin, ; kemudian Gus Imron Machrus Ploso-Kediri ; terakhir guru besar UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.

Sebagai penutup, pembacaan doa dari salah satu kyai sepuh yang hadir. Cukup lama berdoanya, karena banyak doa yang baru dikeluarkan dari lemari. Kemudian ramah tamah, makan malam bersama para tamu dan undangan.

Hari masih menunjukkan pukul 22:30 WIB, tapi kepenatan sudah merambah domain utamanya, mengantuk tak tertahankan. Dan akhirnya, aku terlelap dalam buai angin malam yang menyentuh pori-poriku lewat celah ventilasi kamar yang terbuka. Wassalam.

Tetep sehat, bersemangat dan selalu taat.
Terima kasih


(Foto:barongsay dari google images)

Rabu, 27 Oktober 2010

Laku Islam Jawa / Tirakat

PENGERTIAN LAKU TIRAKAT.
Wong Jawa dimanapun pasti mengenal yang namanya lelaku. Laku, kata kerja tunggal yang berarti menjalani. Jika ditambah kata keterangan sifat seperti tirakat, menjadi laku tirakat, berarti menjalani keprihatinan. Dalam kultur Jawa, laku tirakat mulai dikenalkan kepada anak-anak secara bertahap. Ketika mereka mulai beranjak dewasa, anak-anak diberi pemahaman yang lebih agar mau menjalani lebih serius. Yen kepengin mulya kudu tirakat (jika menginginkan kehidupan yang lebih baik harus tirakat)

Setiap insan pasti menginginkan kehidupan yang lebih baik, hari ini lebih baik dari hari kemarin, hari esok lebih baik dari hari ini. Untuk mewujudkan mimpinya, mereka punya program, pakai metode dan teknik para pakar, bergantung pada kultur budaya dan disiplin ilmu yang mereka pahami.  Hal ini mereka lakukan demi mempersiapkan kehidupan masa depan keluarga dan anak cucunya yang lebih baik. Wow....

Mempersiapkan masa depan secara akal sehat berarti menyiapkan kehidupan berdasarkan asumsi manusia saja. Manusia berihtiyar sambil berdoa, mudah-mudahan Allah swt ridha’ atas apa yang diupayakan.
Dengan kata lain masa depan mereka itu masih merupakan misteri, sesuatu yang belum pasti. Bahkan mereka yang menyiapkan sendiri merasa tidak yakin, tersirat dari doa-doa mereka yang diawali dengan “mudah-mudahan”.  Iya kan???
Sedangkan laku tirakat adalah cara yang pasti untuk mencapai tujuan. Caranya dengan pasrah diri kepada Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya.
Intisari menjalani laku tirakat adalah membersihkan hati/kalbu  agar bening. Dengan  kebeningan hati itulah Allah swt berkenan memberi bimbingan dan tuntunan keselamatan menjalani kehidupan di dunia. Hanya dengan pembimbingan langsung inilah sesungguhnya seseorang memperoleh kepastian keselamatan perjalanan hidupnya di dunia hingga di akhirat. 

Kilas  balik Sejarah Nabi Muhammad saw
Pertanyaan yang selalu menggelitik nurani saya itu :
  • Mengapa Muhammad bisa menjadi utusanNya?
  • Apa yang dijalani sehingga Allah ridho menjadikan utusan Nya? 
  • Bagaimana cara beliau menjalaninya ketika itu?
  • Dan juga,mengapa beliau mau menjalaninya? 
  • Apakah di awal menjalani laku tirakatnya, beliau sudah mengetahui jika akan menjadi utusanNya?
Jawaban dari pertanyaan diatas, terpapar di kisah berikut.
Bahwa ketika memasuki usia 40 th. Muhammad sangat gelisah melihat keadaan masyarakat Quraisy pada waktu itu (jaman jahiliyah). Melihat kenyataan yang demikian, hatinya tidak kuat. Beliau lebih suka menyendiri di tempat yang sepi mencari ketenangan batin, sekaligus mendekatkan diri, menyerahkan hidupnya hanya pasrah kepada Allah Yang Maha Kuasa. Saya sangat yakin jika kebiasaan beliau menyendiri itu sebenarnya sudah lama dilakukan bahkan jauh sebelum usianya 40 th. (tetapi tidak ada didalam catatan sejarah)

Apa sebabnya? Siapa yang menuntun Muhammad?
Pada usia 6th, ada kisah tentang hati Muhammad yang disucikan oleh NYA. Seseorang  yang telah memiliki kesucian hati seperti itu (karena disucikan oleh Nya) pasti memiliki rasa yang lebih peka, lebih halus dibandingkan dengan manusia biasa. Sehingga wajar jika Muhammad kecil tidak bisa berkumpul dengan orang yang hatinya belum bersih.  Dari sejarah disebutkan bahwa setelah menyendiri didalam Gua Hiro' selama 40 hari 40 malam, pada malam terakhir bertepatan dengan 17 Romadhon,  malaikat Jibril datang membawakan wahyu Muhammad yang pertama. Pada malam itu Muhammad memperoleh kenabiannya.

Setelah itu apa yang terjadi?
Beliau merasa kedinginan dan pulanglah kerumah, menemui istrinya Siti Khadijah. Dirumah, badannya masih saja menggigil, beliau merebahkan diri bermaksud menidurkan diri dan kepada istrinya beliau minta untuk diselimuti.

  • Ini kisah sejarah yang alamiah dan rasional. Secara logika jika seseorang mengalami peristiwa luar biasa dalam hidupnya, batinnya pasti akan terguncang hebat. Juga karena kejadian ghaib itu tidak rasional. Diutarakan apa adanya sebagaimana yang dialami, orang pasti akan menganggapnya tidak waras.  

Demikianlah kisah yang diriwayatkan, kemudian waktu antara turunnya wahyu yang pertama dengan yang kedua, dari beberapa riwayat terjadi perselisihan pendapat. Ada yang menyatakan tiga tahun atau kurang dari itu. Yang pasti, disaat turunnya wahyu kedua,  Rasulullah sedang berselimut, maka turunlah surat Al Muddatstsir (=orang berselimut) yang merupakan perintah agar Nabi berdakwah kepada kaum kafir Mekah. 

Sehingga telah menjadi terang benderang bagi kita semua bahwa di awal perjalanan hidupnya, Nabi Muhammad saw tidak mengetahui jika akhirnya dipilih dan diangkat Allah swt menjadi utusan Nya. Beliau itu, dalam perjalanan kehidupan spiritualnya selalu mengikuti kata hati. Begitu pula, ketika beliau melakukan tirakat menyendiri  (jawa=nyepi,topo)  di dalam gua hira', hakikatnya adalah mengikuti kata hati sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepadaNya.
  
Jadi tidaklah benar jika Nabi Muhammad saw yang dipilih oleh Allah swt untuk dijadikan utusan Nya, serta merta langsung mencapai tingkatan sempurna tanpa melewati tahapan/proses ujian yang bertingkat-tingkat. 
Semua nabi, semua rasul, semuanya mengalami proses pematangan spiritual yang bertingkat-tingkat dibawah bimbingan dan tuntunan langsung Allah swt. 

  • Bimbingan langsung dari Allah swt hakikatnya tidak diperuntukkan bagi para nabi saja melainkan untuk siapapun diantara umat NYA yang benar-benar beriman kepada Allah swt.  


Seperti disebutkan didalam Surat Al Taghaabun ayat 11: 
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu"

  • Pertanyaannya adalah pada tingkatan keimanan yang bagaimanakah Allah swt berkenan memberi bimbingan dan tuntunan langsung itu?

PEMAHAMAN AGAMA ISLAM
Islam adalah agama terakhir yang diturunkan Allah kepada umat manusia sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam, juga sebagai penyempurna dari tiga agama yang pernah diturunkan kepada nabi Dawud as, nabi Musa as dan nabi Isa as. 

Kitab suci Al Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sebagai pedoman hidup yang membawa rahmat bagi seluruh semesta alam. Kitab suci Al Qur’an juga sebagai penyempurna dari kitab-kitab suci yang pernah diturunkan di dunia. Penyempurna kitab suci Zabur, Taurat dan Injil.
Al Qur'an berisi ajaran moral atau akhlak yang mulia (akhlaqul karimah); budi pekerti yang luhur; yang muaranya terdapat pada hati yang bersih, suci; hati yang bening. 

Apabila anda mampu menjalani kehidupan duniawi hanya bersandar/pasrah kepada NYA sesuai dengan petunjuk yang terdapat didalam Al Quran, maka anda akan mencapai tingkatan tauhid yang tinggi. Pada tingkatan ini, Allah swt berkenan menanamkan Al Qur'an didalam hati (seperti hati Rasulullah) sebagai akhlaknya serta dijadikan oleh NYA menjadi manusia sempurna (insan kamil)  Allah Maha Adil. Subhanallah !

Andai umat Islam seperti itu kondisinya... Betapa indahnya kehidupan ini! Kehidupan duniawi akan berjalan sesuai dengan kodratinya, tidak akan saling sikut berebut kedudukan ataupun jabatan. Dengan hati yang bening, bisa dipastikan tidak akan terbersit sedikitpun di pikiran, ambisi/nafsu untuk memperkaya diri sendiri. Semua dipasrahkan kepada Allah yang maha kuasa membagikan rizqi (rejeki)


PEMAHAMAN BUDAYA JAWA
Jawa dapat diartikan sebagai ngerti, tahu, paham terhadap kehidupan.
Budaya Jawa dikenal sebagai budaya adiluhung. Dari buku Catatan Pinggir 3, Goenawan Mohammad-mengutip kamus Jawa-Inggris susunan Elinor Clark Horne, terbitan Yale University Press tahun 1977. Kata “adiluhung” berarti of outstanding quality,  atau highly esteemed . Suatu sifat yang menunjukkan ketinggian mutu, keindahan dan kehalusan, juga keluhuran.

Perhatikan tembang macapat dibawah ini,
Urip iku sakderma anglakoni
Mobah mosik ana kang mobahna

Hal diatas menunjukkan pemahaman tauhid wong Jawa yang telah menyadari esensi dari kehidupan bahwa manusia hanya sekedar menjalani saja, semua aktifitas, gerak dan pergerakannya semata-mata digerakkan oleh Gusti Allah.
Dengan kata lain, manusia hendaknya berserah diri sepenuhnya kepada Allah swt. Tunduk dan taat hanya kepada Allah swt. Budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi di dalam masyarakat Jawa identik dengan nilai-nilai spiritual yang sudah membumi di masyarakat dan menjadi bagian dari sendi dasar kehidupan yang melekat dalam budi pekerti Jawa.

Diantaranya adalah budaya untuk mengutamakan bebuden luhur (berbudi luhur); dalam bertindak mengutamakan "rasa" (adanya dalam hati/nurani/kalbu);  sabar; ikhlas; legawa; seleh (berserah diri); nrimo ing pandum (menerima apa adanya) dan meyakini bahwa kehidupan duniawi pasti owah gingsir anyakra manggilingan  (berputar seperti roda, kadang di atas kadang di bawah) serta memahami falsafah urip iku ngundhuh wohing pakarti (hidup itu merupakan buah dari perbuatan/siapa menabur pasti menuai).

Sehubungan dengan sikap dasar manusia sebagaimana firman Allah swt dalam Al Qur'anul karim: (QS.Al Anbiyya’ 21:37)
"Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa"

Pada jaman itu, masyarakat Jawa telah meng-apresiasi-nya, dalam berkehidupan hendaklah bersikap jangan tergesa-gesa. Lebih baik alon-alon waton kelakon (pelan tapi pasti ; biar lambat asalkan selamat) merupakan sifat-sifat yang menggambarkan kesadaran diri atas segala kekurangan; ketaatan; keyakinan dan kepasrahan yang begitu kuat kepada Allah swt - Tuhan Yang Maha Kuasa.

Akhlaqul karimah = Budi luhur?
Sebagai penelitian awal dalam rangka mencari persamaan antara nilai-nilai moral yang tersirat didalam Al Quran dengan Budaya Jawa, yang terpenting bagi saya tentunya.. bisa menyampaikan sebuah kebenaran tentang fakta-fakta yang tersirat dari keduanya. Maka, sepahit apapun harus tetap saya sampaikan.
Mungkin terlalu dini atau bahkan dianggap mengada-ada ketika saya hendak menyimpulkan... 
Bahwa saya yakin benar jika nilai moral yang tersirat di dalam Al Qur'an itu identik dengan ajaran budi luhur yang telah dijalani oleh masyarakat di Jawa.
  • Marilah  kita menggunakan rasa di hati terdalam,Tahukah anda jika rasulullah Muhammad saw itu sifatnya sangat sopan dan  santun, lembut?
  • Darimana beliau memiliki sifat-safat njawani (spt orang Jawa) seperti itu?
Ataukah sifat-sifat yang njawani itu hakekatnya merupakan wujud dari nilai-nilai moral yang tersirat didalam Al Qur'an, sebagaimana disebutkan didalam hadits, bahwa Nabi Muhammad saw itu memiliki akhlak Qur'ani.
Beliau itu bukan seperti orang Quraisy di masa itu, yang kasar dan penyembah berhala. Beliau sudah meyakini Tuhan yang satu.
Juga diceritakan dalam sejarah bahwa Nabi Muhammad itu lemah lembut. Bukankah lemah lembut merupakan ciri khas orang Timur (Wong Jawa)?   

Tidak berlebihan kiranya jika di ujung pembahasan saya sampaikan bahwa ajaran budi luhur atau akhlaqul karimah itu kitabnya diturunkan di jazirah Arab dan yang sudah menjalani isi kitabnya adalah  masyarakat di Jawa.

Berbahagialah anda yang berasal dari Jawa, karena dengan ke"jawa" an yang melekat pada diri anda sejak bayi, pastinya sangat membantu memudahkan anda dalam memahami nilai-nilai moral  yang tersirat didalam Al Qur'an.

Jika ingin melihat dan mengenal lebih jelas budi pekerti Jawa yang sudah membumi di masyarakat, tempo-tempo tengoklah kehidupan para sesepuh di Jawa yang masih tersisa. Pada umumnya beliau-beliau masih sangat setia ngugemi laku  jawane (memegang teguh budaya jawanya) di dalam menjalani keseharian hidupnya. Sebenarnya kita bisa mengambil makna hakekat laku jawa dari kehidupan sehari-hari para sesepuh tersebut. 

  • Bagaimana menyikapi rejeki yang diterima; 
  • bagaimana menyikapi keinginan yang melebihi kemampuan; 
  • bagaimana cara menghormati tamu yang bertandang ke rumah; 
  • bagaimana sikap istri terhadap suami ; dll. 

Hakekatnya, inilah wujud penerapan akhlak Qur'ani didalam keseharian hidup, yang memang telah membumi di Jawa.

Dalam hal berperilaku, pada hakekatnya kita hanya berpedoman kepada Al Qur'anul karim.  Sebagai ajaran tauhid paling sempurna yang membawa rahmat bagi semesta alam dan membimbing manusia agar selamat menjalani kehidupan di dunia hingga di akhirat kelak.

LAKU TIRAKAT ISLAM JAWA
Islam dan Jawa tidak bisa dipisahkan karena perbedaan bahasa ataupun budayanya.  Keduanya memiliki nilai kesempurnaan yang haq dari Allah. 
Agama Islam memiliki kesempurnaan didalam tata cara beribadah kepada Allah dengan sholat 17 roka'at/hari yang diturunkan pada waktu Nabi Muhammad s.a.w diperjalankan dalam Isra' mi'raj. 
Sedangkan Laku Jawa adalah sampurnaning urip, kesempurnaan didalam tata cara berkehidupan didunia, menuntun manusia untuk selalu opo jare (hanya pasrah) kepada Yang Maha Kuasa. Jadi Islam Jawa hakikatnya adalah menjalani ibadah  secara Islami dan berperi laku seperti orang Jawa (~yg mengamalkan Al Qur'an). 

Dibawah ini adalah hal-hal yang berhubungan dengan Laku Tirakat Islam Jawa Kasunyatane Urip  (realita kehidupan). 
Dan perlu diperhatikan, di dalam menjalani laku tirakat selain harus ikhlas juga harus pasrah sepenuhnya kepada Allah swt.

Diantaranya yang harus dijalani adalah :
1. Puasa sunah Senin dan Kamis, yang diniatkan hanya untuk Allah swt.
2. Perbanyak sholat sunah, baik siang (dhuha) ataupun malam (tahajud) 
3. Waktu potong rambut hanya di hari Rabu.
4. Jangan koreksi kesalahan org lain (ngerumpi), selalu instrospeksi diri.
5. Gunakan rasa hati untuk merasakan apa yang dilihat (untuk melatih rasa)
6. Jangan mengambil hak orang lain.
7. Jangan menagih hutang.

Dengan menjalani laku tirakat, diharapkan anda akan lebih mudah memahami nilai-nilai yang tersirat dari kehidupan yang kita jalani sehari-hari. Dalam istilah pesantren kuno "ngaji huruf gede", mengaji dengan memperhatikan alam semesta yang nantinya akan memudahkan anda membaca tanda-tanda petunjuk hakekat yang diturunkan Allah swt untuk diambil hikmahnya.

Aja percaya yen ora nyata, jangan percaya kalau tidak nyata..  jangan puas hanya dengan membaca, harus dibuktikan sendiri kebenarannya.  (pemahaman hakekat)

Demikian sedikit gambaran yang merupakan cuplikan pemahaman sederhana dari laku Islam Jawa Kasunyatane Urip.

tetep sehat,  bersemangat dan selalu taat.
wassalam. terima kasih.